Rabu, 03 Juni 2015

Alasan Kenapa Gatekeeper Mentality dalam dunia geekdom itu perlu.

for the uninitiated, gatekeeper mentality adalah kondisi dimana orang-orang yang turut serta dalam sebuah fandom - or geekdom, specifically - menjadi sangat defensif ketika ada orang yang stereotype nya tidak cocok dengan geek kebanyakan masuk ke dalam dunia geek. memang kelemahan ada di generalisasi bahwa "orang yang tidak kelihatan seperti geek" akan sangat mencurigakan kalau mereka suka hal-hal geeky, tapi masalah ini tidak muncul tiba-tiba, ini hasil dari marginalisasi kultur geek yang selama ini dianggap culun dan kekanakan, yang tiba-tiba jadi keren karena masuknya kultur geek ke dunia mainstream lewat film-film blockbusternya. tiba-tiba orang yang 10 tahun lalu boro-boro tahu iron man itu siapa, sekarang ngefans banget dan bilang kalau tony stark adalah iron man yang definitif.

hal ini muncul di permukaan memang baru kurang dari 10 tahun terakhir, ketika karakter komik masuk ke dalam kultur pop mainstream. mulai dari batman tahun 89, sampai puncaknya di akhir 2000an ketika batman begins lunched the comic book property into mainstream, dan ditambah iron man dan the dark knight yang membuktikan kalau film superhero bisa serius. awalnya tentu saja mereka yang mendedikasikan hidupnya di kultur ini senang, akhirnya mereka didengar dan dihargai, tapi pada satu sisi, orang-orang yang dulunya tidak peduli dengan komik, menggunakan komik agar terlihat cool and hip.

sebenarnya ini nggak lebih dari balas dendam pathetic kaum yang sudah lama termaginalisasi. tapi seperti bidang-bidang lainnya, geekdom tetap butuh seorang gatekeeper untuk memastikan mereka yang mau ikut peduli dengan kultur ini, benar-benar peduli dan mendukung kultur ini dengan utuh. 

sebenarnya geekdom sangat terbuka dengan orang-orang yang benar-benar serius ingin masuk ke kultur ini. saya sebagai batman geek akan dengan senang hati memberikan list must-read story kalau memang mau serius mengikuti dunia ini. mereka yang di reddit juga tidak pernah marah-marah kalau ada yang dengan sopan bertanya soal hal-hal yang kurang jelas, karena memang dunia komik - dan geek culture kebanyakan - sudah terlalu uzur dan punya banyak versi untuk dimengerti dalam waktu singkat.

intinya adalah mengakui kalau kamu itu baru disini, dan kita sangat inklusif. toh sekarang komik sangat mudah didapatkan. yang bikin marah tentu saja mereka yang kemana-mana pake kaos captain america tapi gatau steve rodgers itu siapa. sama dengan orang yang kesel pada mereka yang pake kaos band tapi gatau lagunya apa.

anggap saja gatekeeper mentality ini semacam interview ketika mau cari kerja, atau tes masuk universitas. kalau kamu bisa membuktikan kalau kamu bukan fake geek, toh pasti akan diterima dengan lapang dada.

karena memang geekdom menuntut kamu untuk mendedikasikan waktu, tenaga, dan uang untuk bisa mengerti dan relate. kamu harus menyempatkan ratusan jam untuk membaca komik dan menonton film. jutaan rupiah untuk membeli action figure, komik, dan DVD sebagai bentuk dukungan terhadap industri kultur ini.

but then again, most of them geeks won't be heard, because deep inside they don't give a shit about people who are using their beloved culture to impressed some other people. because at the end of the day, they're the ones that matters most to the culture. 

take female thor for example, almost all people knows that this is marvel silly pandering to woman, especially radical feminist and SJW. because 1; Thor is a name, not a title. whatever happens to thor, his name is Thor Odinson, and if Captain America is worthy of Mjolnir, he will posses the power of Thor, but he is not Thor. 2; it fails miserably. because they want to make radical feminist and SJW happy, but they are not the one who buys comics. the geeks judge it with their money, and female thor fails big time. 

ps; saya masih kesel sama orang yang bilang christian bale itu definitive batman/bruce. he is good and perfect for nolan's universe, dimana semuanya grounded in reality. ketika disuruh memilih batman yang definitif di dunia film? jawaban saya ya belum ada, tapi sejauh ini, secara fisik, ben affleck jauh lebih batman daripada bale. 


ps lagi: saya masih kesel sama teman saya yang ngaku film buff, tapi ga punya satupun DVD ori dirumahnya. he's not poor mind you.

Selasa, 02 Juni 2015

Jakarta panas banget anjir.

Senin, 01 Juni 2015

Berak

Lagi nganggur, sudah sebulan lebih dikit. Hampir tiap hari buka reddit, main di r/explainitlikeimfive dan r/askreddit. Dalam sebulan ini saya gatau sudah berapa banyak pengetahuan trivial yang sebenernya ga aplikatif ini bertambah.

Hari ini agak beda.

Siangnya dihabiskan dengan nonton film slice of life yang bikin hati saya pedih. Oh, brengseknya, film ini slice of life + coming of age yang berdasarkan blog di Cina sana, iya, genrenya raditya dika. Tapi film ini berhasil bikin saya senep di dada karena 2 faktor; bikinnya niat, dan si penulis ga numpang populer jadi tokoh utama.

Intinya adalah perasaan sayang banget yang dulu lo rasain waktu masih curut, 80% ga akan berujung ke pelaminan, percuma. Sekarang masalahnya ada sama logika lo; karena percuma maka ga berguna, atau itu ga percuma, karena perasaan yang lo rasain dulu itu autentik, lo pernah sesayang itu sama satu orang.

Adik saya selalu membagi hidup saya ke dalam dua masa; "waktu masih normal tapi naif" dan "sinis tapi bener juga sih." Dan adik saya jujur saja ga bisa bener2 ngasih timeline yang jelas seperti buku sejarah, pokoknya kalau saya yang sekarang punya mesin waktu dan ketemu saya yang dulu, pasti ga nyambung.

Sejujurnya saya pribadi masih gamang soal hubungan sesama manusia, dari persahabatan sampai percintaan. Punya seseorang sebagai moral support dan menjadi moral support seseorang adalah hal yang indah, bahkan cenderung utopian. Faktanya kedua sisi gender punya jurus masing-masing demi mendapatkan pasangan yang mereka inginkan. Faktanya faktor sosial-ekonomi punya pengaruh besar terhadap pemilihan pasangan hidup. Ya tentu saja ada kemungkinan Seorang anak konglomerat jatuh cinta dengan orang dari kantor bapaknya yang sering ketemu di rumah, tapi kemungkinan mereka jadi pasangan ya kecil, kecuali si anak konglomerat mau menurunkan ekspektasi sosial ekonomi, dan si plebeian ini cukup percaya diri tidak akan mengecewakan si anakraja. Tapi ini kan realita, bukan novel karangan Dee Lestari, dimana seorang blogger miskin ditaksir sama pewaris usaha bakery nasional.

Kenapa? Karena ada peran gender dimana si laki-laki adalah sang pemberi nafkah, jadinya laki-laki gamau engage hubungan dengan yang diatasnya, dan yang diatas juga gamau sama yang lebih rendah. Mau situ ngomong apa, kenyataannya begini.

Mungkin - mungkin loh - mungkin saya ga siap patah hati. Entah karena putus 5 tahun setelah jadian, falling out of love setelah nikah 15 tahun, atau ditinggal mati setelah 50 tahun bersama, yang lantas akan membuat saya bertanya, kalau dulu saya memilih single gimana?

Hal yang sama bisa ditanyakan oleh Nico yang memilih sendiri di usia 40 tahun; kalau dulu saya memilih menikah gimana?

Tapi memang hidup itu kumpulan kesempatan yang terlewatkan. Mulai dari ajakan jalan yang saya tolak, tawaran magang yang timingnya ga cocok, sampai dia yang sudah ngasih kode pin + kartunya tapi saya terlalu oblivious. *yang terakhir saya assume aja ada*

Kalau lagi begini, satu kata aja lah buat hidup: berak