Senin, 28 Desember 2015

A shitfest of a mall, called Grand Fucking Indonesia

Grand Indonesia is probably one of the biggest shopping mall in Indonesia, in South East Asia probably, we indonesians take this mall thing seriously, it's our sole escapism.

what i don't understand is: how the fuck a shopping mall that big feels very suffocating. i don't know if it's the small elevator, small escalator, or just small spaces to walk in general. i mean compared to fucking plaza senayan, GI feels like some niche mall on the outskirts of Jakarta.

i'm making a post, about a mall.

it was a shitfest really

オルフェンズの涙

few of my friends are getting married, and more friends of my friends that i don't know personally but know their private life thanks to internet, are getting married too.

at least, now, i don't understand why people get married, really. other than all of those legal and social side of it, i don't see what marriage will bring to my life, personally. actually, what i'm having a hard time to understand is how? how do you know that she/he's the one?

the majority probably will answer with, "i just know, it feels right"

well, i guess deciding about getting married is not even about logic anymore, you don't do that SWOT analysis, the strength, weakness, opportunity and threats?

this is coming from a dude that spent weeks to months researching about what football boots to buy, or whether calling McDonalds is efficient when compared to fried eggs and corned beef with rice, and thinking wristwatch is unnecessary because every goddamn phone have a watch nowadays.

but i guess this is just my concern, or probably many others, but they don't really dare to question it.

seriously, how do you guys really knows it? do you calculate the risks? do you really just feels "s/he's the one" on one random night after watching Love, Rosie? - Lily Collins will be the death of me by the way.

i guess i'm just shit at human interaction.

Selasa, 15 Desember 2015

13 weeks

13 weeks.

that's the duration of my stay in gowa.

so what? no. this is not about the duration, this about everything but the duration. if i stayed for 13 weeks in hotel, that would be fine. i'm having a trouble believing all that 13 weeks because how absurd, how out of comfort zone that 13 weeks are.

how the hell did i survive that 13 weeks, i'll never know.

i slept in shit bed. by shit bed, i mean really shitty bed. i came to believe that the bed was made out of some sort magic substance, the bed got thinner and thinner everyday, by the time i'm coming home, it was pratically a carpet.

i lived in a shit house, it's not even a house, it's house-store, aka rumah toko aka ruko. we don't have garbage man, we had to collect it ourselves and burnt it once a week.

i woke up at 8 WITA every fucking day, not because i'm a morning person, but because there are flies everywhere, thanks to those garbage.

i ate indomie almost every morning, because nobody could cook, and nobody were selling a fucking breakfast near us. i ate indomie so much i hate it. this me we're talking about, i ate six indomie a day in highschool, record high.

i got thypus for fuck's sake.

but then we got the job done, stayed in a decent hotel for the last night before we went home.

now i'm at home, sitting in my room, in my decent bed, air con turned on, unlimited internet, wondering how the hell did i survive that.

it really feels like a dream, all those days, those people, those crazy schedule and work hours.

fucking hell mate.

Minggu, 13 Desember 2015

Perihal lagu mbak Isyana yang Keep Being You.


lagu ini enak banget, liriknya simple ditambah choice of words yang oke - setelah semalem karaokean peterpan yang liriknya "dan aku khilafku", maksudnya apa sih - ya iyalah, si mbak kuliah di tanah Lee Kuan Yew sana.

seriusan lagu ini ngingetin indahnya waktu lagi kasmaran.

"udah kamu ga perlu berubah buat aku"

lalu negara api menyerang.



lalu ketauan kalo si dia jarang mandi, atau hobi menyepelekan masalah - entah masalah itu layak disepelekan atau tidak, ya itu masalah lain toh - dan habit tetek bengek lainnya.

lalu mantra "keep being you" ndak laku lagi.

it says a lot about the writer of this song, and it says a whole fucking lot about me.

but i put it on repeat nonetheless, karena saya kurang piknik, karena saya masih butuh diingatkan kalau diluar sana - mungkin - masih ada yang memegang teguh mantra ini. karena terakhir saya beneran kasmaran sampe ga bisa tidur itu 5 tahun lalu, karena terakhir kali saya mikir saya mau cari pasangan hidup itu - mungkin - 2 tahun lalu. it feels good to feel something, whatever that is.

now after 3 fucking months in broadband-less land, i'll spend today scouring reddit like crazy.

Jumat, 27 November 2015

Hell is other people

Itu kata Jean Paul Sartre, filsuf kenamaan entah darimana, saya juga tahu dia itu siapa dari blogpost orang lain yang lagi sumpek sama orang lain. Frase “orang lain” pun bukan perihal orang asing atau orang kebanyakan, bukan masalah kalau kumpulan manusia dalam jumlah banyak itu rentan digiring, ini masalah saya sama orang selain saya.

Filsuf Kenamaan


Saya selalu berusaha mencari alasan logis dibalik semua langkah yang saya ambil, baik itu segi efesiensi, atau memang untuk kesehatan mental saya. Tentu ini subjektif, tapi lagi-lagi masuk akal. Ini masalah argumentasi, masalah anda memertahankan prinsip, dan saya rasa saya bisa menjelaskan alasan dibalik tiap-tiap pilihan hidup saya dengan logis.

Memakai baju itu-itu saja misalnya, ini bukan perkara saya malas, ini masalah efektifitas waktu. Di mata awam, efektifitas dan kemalasan beda tipis memang – pongah sekali saya! – bisa saja mereka bilang saya malas mandi, atau memang malas segala-galanya. Nah sekarang coba bayangkan anda-anda yang sering hanya karena baju anda kurang sreg, nah bayangkan saya yang punya zona nyaman masalah pakaian, otak dan waktu saya bisa dipakai untuk hal lain. Masalah hal lain itu tidur, itu beda masalah, tapi misalnya tiba-tiba saya harus kemana gitu atau melakukan apa gitu, saya tahu baju saya layak – pilihan baju saya aman banget lah – dan otak saya belum terlalu lelah karena ga disibukan dengan kekhawatiran kalau baju saya kurang sreg.

Masalah tidak merokok misalnya, puluhan riset menyatakan rokok itu sumber penyakit, ganja itu jauh lebih aman daripada merokok, titik. Saya tidak harus melakukan silat mental demi justifikasi merokok, mulai dari umur siapa yang tahu, sampai “katanya kalau tidak merokok bisa beli mobl, mana?”. oh saya suka makan indomie? Saya tahu itu nggak sehat, ga usah di omongin lagi, saya tidak berusaha mencari pembenaran.

“nik hobi banget makan indomie lo”

“iya nih”

“ga sehat tau”

“iya emang”

Tuh, mudah kan? Seandainya mereka yang merokok menyerah dan mengakui kalau iya, rokok itu tidak sehat, tapi saya terlalu lemah mental untuk menolaknya, saya akan hepi-hepi saja. Lagian indomie itu jelas bikin kenyang, ga makan indomie seminggu juga kuat saya.

Ingat ini masalah argumentasi, masalah justifikasi, bisa nggak orang lain mencari alasan logis dibalik perbuatan mereka? Mostly ya ga bisa.

Kesel ga baca tulisan saya? Pongah banget ya saya? Itu pemikiran saya kelas 3 SMA.

Tahu yang merubah pola pikir saya siapa? Dr. Amadeus Arkham, dari komik Arkham Asylum, a serious house in serious earth. Waktu ibu mas Amadeus makan kecoa, dia bilang something along the line, “she do things that make sense to her”

Itu masalah manusia lain, “make sense” itu nggak universal, kita semua bersilat mental – saya termasuk – apa yang masuk akal buat saya, seperti misalnya tidak perlu ganti handphone sebelum rusak, belum tentu masuk akal buat orang lain, dan sebaliknya.

Faktanya, common sense is not that common.

Faktanya, a person, is smart, people, are stupid.

Faktanya, saya lagi pengin marah-marah.

Ini masalah bikin susah. Saya tahu saya bukan orang yang enak diajak ngobrol waktu pertama kali ketemu, saya tahu saya ini egois mampus, saya tahu saya pragmatis, tapi saya selalu berusaha untuk selalu considerate sama orang, ngga nyusahin orang.

Main kerumah orang jam 11 malem tanpa ngabarin dulu trus jam 1 malem minta anterin itu nyusahin.

Ngajak temen yang kita ga kenal tanpa izin itu nyusahin.

Nitip kentang goreng jam 11 malem itu nyusahin.

Saya pengen jadi orang baik, sumpah, tapi resikonya adalah akan selalu ada orang-orang yang kayak tai gini manfaatin.

Ini justifikasi saya kenapa saya tidak terlalu tertarik bersosialisasi, because people rarely impress me.

Hell the last person who impressed me because she’s nice, it turns out she’s not smart. Is there any way people could be smart, and kind. Could people be smart and kind? Because kindness depends on its user – weapon kali user – to be somehow naive, to believe that people are nice.

I’m not nice, i’m not going to go out of my way to please people. If people ask for my help, yes i’ll help, but i won’t try to be more than considerate.

Consideration is the least i could give to other people.

If you read my post, you’ll think of me as a snobbish sons of beaches. But if you know me, you’ll know that i’m one of the most considerate people out there. I hold door for other people, i let people pass me on highway, hell i let people pass me on supermarket queue if they only have 1-2 goods to pay.

Heck, if you know me without reading my blog, you’ll probably think i’m the most, humblest, guy in the world. I’m humblebraging there.

Kamis, 19 November 2015

Selamat Ulang Tahun

Selamat ulang tahun untuk saya.

24 tahun, sudah cocok dengan lagu ebi bit A yang saya gatau ngeja nya gimana.

Sudah 24 tahun, usia yang sebenarnya sudah bisa dibilang dewasa, di mata kerabat dan keluarga pun saya dianggap dewasa melebihi umur, hasil sinisme dan pesimisme mungkin, atau memang bijaksana?

Sudah 24 tahun, usia dimana banyak orang mulai mempertimbangkan jenjang hidup berikutnya, seakan hidup ini permainan video atau novel, yang punya jenjang atau bab.

Sudah 24 tahun, saya masih ingat betul bagaimana rasanya jadi anak bocah 19 tahun - umur adik saya sekarang.

Sudah 24 tahun, tapi masih kontemplasi - alah! -perihal hadiah ulang tahun dari diri sendiri untuk diri sendiri, buang waktu sehari penuh apalah harus beli ini barang atau tidak.

Tidak murah, memang, tapi entah kenapa ini barang terasa sebagai bagian dari sejarah, seperti punya signifikansi sendiri, sebuah investasi baik dari sisi nominal maupun emosional.

Sebuah centerpiece koleksi.

Sudah 24 tahun, saya galau antara harus beli Optimus Prime (lagi) atau tidak.





Rabu, 18 November 2015

Kentut

Saya sedang kangen betul rumah ini.

Mungkin selanjutnya saya di rumah, rutinitasnya akan berbeda, karena saya mungkin akan punya pekerjaan, jadi di rumah pun tidak akan seperti 5 bulan terakhir dimana kerjaan saya cuma tidur/internetan/makan/sekalikali nonton bokep.

Tapi saya kangen rumah.

Saya kangen keakraban jakarta.

Setaiknya Jakarta, saya kenal jakarta.

Saya tau titik macet yang rutin dimana, jam berapa, sampai kapan. Saya tau kalau jumat sore di jakarta itu ga masuk akal, ga layak hidup, tapi tetep kangen jakarta.

Saya kangen puluhan mall yang isinya sama aja.

Saya kangen bisa delivery segala jenis fastfood dari rumah sambil internetan dan sok pinter di reddit.

Saya kangen dengan kondisi dimana semuanya hanya an hour away.

Di sini rumah sakit bagus jauh, mall bagus jauh, bioskop sedikit - di Jakarta, mall sekelas Pejaten Village aja punya bioskop! 5 menit naik sepeda dari rumah - makanan itu2 aja.

Dulu di buku manajemen ada The Golden Arches theory, golden arches itu lambang McDonalds, teorinya cuma menyatakan kalau keberadaan McDonalds berbanding lurus dengan kemajuan area tersebut, nah di Gowa ndak ada McDonalds.

Di sini orang main ke KFC dandan, saya biasa ke KFC kemang yang gaul banget itu sendalan jepit + kaos oblong dan celana pendek - cuma 10 menit dari rumah! - saya kangen bisa makan hotdog sevel at any given moment.

Saya kangen punya unlimited internet dimanapun - dirumah ada, di kampus ada, rumah saudara punya semua - disini yang punya wifi seupil, speed nya pun hina dina.

Kentut

Saya kangen rumah

Sabtu, 14 November 2015

Penderitaan

I'm in agony.

The reason? These people library of music is as big as my choice of clothes: minimum.

These local kids take care of music responsibility, i get it, i understand it, aim for majority, but it still sucks.

I have to create my own playlist so i could stay sane, i have to use earphone to listen to it, but using earphone for hours makes me looks like i hate their music taste, well i hate it, but they must not know.

Kemarin mati lampu, semua menderita kecuali saya. Mati lampu adalah satu2nya momen dimana mereka ga nyetel lagu dari speaker - bahkan bbrp langsung pulang - dan saya bisa menikmati kesunyian.

I miss being alone in my room and shitposting on reddit.

Jumat, 13 November 2015

Radiohead - Creep

Saya ndak tahu apa yang ada di kepala mas Yorke waktu ngegagas lagu Creep - atau siapapun yang nulis inj lagu - karena liriknya nggateli, nusuk, mbathin bener.

Kenapa begitu? Ya karena memang begitu, karena saya - dan mungkin kebanyakan dari kita - pernah jadi seperti yang di lagu ini, pernah jadi creep waktu naksir orang, pernah mengagungkan dia yang di taksir dan entah gimana logikanya, saya - kita - merasa kecil dan ndak pantas mebdapatkan cinta si dia, keburu pesimis duluan.

Akhirnya cuma mbisa gitu, ngeliatin dari jauh, mbayangin skenario mustahil perihal gimana saya bisa sama si dia.

Ngestalk segala jejaring sosial, tau detail hidup si dia yang ndak wajar kita tau.

Ya saya ndak tahu dengan dewa dewi yang diberikan paras rupawan dan rasa percaya diri yang mumpuni, tapi ya saya ini manusia kebanyakan - average mampus! - yang pernah merasa ndak pede karena si dia - pada saat itu - terasa begitu bersinar sehingga menyilaukan.

Ini lagu menye bener, sungguh. Tapi sudut yang di ambil - kita sebagai seorang yang nggilani - entah mengapa bikin lagu ini jadi ga semenye itu. Mungkin karena self depreciating, self aware, ndak mencoba puitis, straight forward; yang saya lakukan ini nggilani.

Creep ini anti-thesis Payung Teduh yang poetic for the sake of being poetic. 

Creep adalah bukti kalau bikin lirik yang nusuk dan reflektif tidak harus dengan lirik indah.


Kamis, 12 November 2015

A Letter to all poser in this god damn world.

There are shitload of poser here, in earth. Poser. People who do things in superficial way, emphasis on the word “Superficial”. They do things without knowing the true essence of said things, from petty things such as pop culture, to deep and private things like religions. 

My point is: poser sucks.

It’s not about doing things, it’s about the fact that these people are doing it just for the sake of doing it. These are the people who suddenly wears hijab while still wearing expensive accessories when the essence of wearing hijab is humility and simplicity. Come on, i may be a borderline atheist, but these people should know, these people – i refer to those who wears hijab – represents Islam, you know, whether they like it or not.

These are the people who suddenly loves batman just by watching Nolan’s movie, and claiming that Nolan’s Batman is THE definitive Batman, when in fact most of us consider Bruce Timm’s as the one – still bitter about that guy who claimed this when DC announced BvS: Dawn of Justice.

These are the people who suddenly splash hundreds of dollars, millions of rupiah, to buy vinyls just because they can afford it.

You sucks. You guys fucking sucks.

Some of these people would say something along the lines of “chill dude, it’s just a fucking hobbies”

But is it? Is it just a fucking hobbies?

For some – doh, most – of us, it’s more than hobbies, it’s our raison d'etre

These fucking hobbies are our reason to endure shit jobs week in, week out, 9-to-5, for years, so we could fulfill our hobbies, so our live has meaning.

These fucking hobbies are the reason for our mental healths, our friends when we were going through rough patches in life.

These fucking hobbies inspired us, to be the better version of ourselves. Whether it's Optimus Prime optimism, or Batman's pragmatism.

So don’t you dare tell us it’s just a fucking hobbies.

But honestly, we’re open to newcomers, as long as they are respectful and willing to learn. Ask any guitar player to teach you how to play one, most of them will agree to teach you.


So yeah, fuck you poser.

Terpujilah Wahai Pencetus Earphone, Earset, Headphone, atau apapun orang-orang menyebutnya.

Bahwa sejatinya (menurut saya) cara mendengarkan lagu yang paling baik adalah dengan menggunakan earphone.

Bukannya apa-apa, ini masalah perhatian terhadap detail, karena sebagus apapun speaker 7 channel, detail-detail halus tidak akan terdengar. Mulai dari petikan gitar kesekian, sampai dentuman bass betot yang ada 4 detik sekali.

Masalah saya pribadi dengan speaker adalah kecendrungan orang-orang untuk membesarkan bass yang entah apa tujuannya, ketika sebuah lagu punya banyak unsur selain bass yang lebih intricate dan lebih sulit ditangkap dengan speaker yang selalu terganggu oleh suara bising lain.

Tentu kalau situ punya duit banyak, situ bisa mbangun rumah dengan satu ruangan khusus buat dengerin lagu plek, lengkap dengan pemutar vinyl puluhan juta, dan ruangan kedap suara. Tapi hidup tidak adil dan banyak orang tidak seberuntung itu, ini masalah equality dalam menikmati musik. Saya percaya semua orang pantas menikmati musik, dan sangat menyayangkan kurangnya penetrasi musik non-mainstream di radio-radio lokal. Cih bahkan tidak harus non-mainstream, sekedar lagu bagus dari artis mainstream tapi bukan single utama saja jarang.

Earphone pun bisa digunakan dimana saja, mulai dari kamar sendiri, sampai di atas motor dalam perjalanan ke kampus.

Intinya earphone adalah dimana form selalu follow function, karena sebuah earphone harus ergonomis dulu, baru bisa di desain aneh-aneh. Earphone adalah lambang kepraktisan idup, dan indivualisme.


Sabtu, 07 November 2015

Alasan Kenapa Saya Benci Mereka Yang Merayakan Ulang Tahun Dengan Anak Panti Asuhan.

Ga ngerti, nggak pernah ngerti logikanya berbagi dengan anak yatim ketika ulang tahun. Seremonial, short term, dan ga substantif. Karena biasanya yang dilakukan Cuma bagi-bagi bingkisan alat sekolah, makan-makan enak, sembari games yang ga seru.

Do these people see those kids eyes? It’s empty, i’ve seen one. Hidup di panti itu ga ada enak-enaknya, bayangin tiba-tiba ada orang mampu, out of pitty, fear of god, or altruism, memutuskan untuk merayakan ulang tahun dengan anak yatim.

Pernah mikir ga sih apa yang dirasain anak-anak itu? Bahagia? Mungkin. Lumayan bisa makan di restoran/delivery fast food yang mungkin buat mereka Cuma bisa makan sebulan sekali. Tapi ga mikir apa perasaan yang lain? Iri? Bingung? Marah?

Bayangin lagi kalau yang ulang tahunnya dirayain itu anak yang seumur dengan anak-anak panti, kebayang ga sih? Kita ga bisa nyalahin kalau ada rasa iri, bingung, dan marah. Iri sama anak itu kok orang tua nya ada dan mampu, bingung kok idup gini amat, kalau orangnya punya bakat sinis, ya marah kok tuhan ga adil amat.

Kalau memang mau bantu, daripada makan-makan fana, dan besoknya kamu ga peduli lagi sama anak-anak itu, dan kemudian masturbasi rasa syukur betapa beruntungnya kamu bisa hidup berkecukupan dan semoga anak-anak itu diberi kemudahan, kenapa ga jadi donatur tetap, sumbang gaji perbulan yang entah berapa belas juta – orang yang gajinya masih jutaan ga ada yang norak ngerayain ultah bareng panti, Cuma mereka yang merasa #blessed, lagipula, secara statistik, kalangan yang paling aktif beramal adalah yang kaya banget, dan yang miskin banget – ke panti asuhan untuk operasional, daripada buang sekian juta buat makan-makan yang akhirnya jadi feces.

Iya post ini sinis sekali, tapi saya capek sama kemunafikan dan inkonsistensi orang-orang, setidaknya saya konsisten ga nyumbang, karena ga punya duit, dan menurut saya menyumbang diem-diem lebih baik daripada makan-makan KFC bareng anak yatim.

Sebenarnya yang bikin saya paling marah, beneran marah, adalah rasa peduli mereka Cuma bertahan satu hari. Mending kalau tiap tahun rutin, kebanyakan juga Cuma sekali-dua kali seumur hidupnya, ulang tahun lainnya dihabiskan dengan rutinitas lain, entah itu dinner dengan keluarga dan teman terdekat, atau mabuk berujung pesta seks – i need to make an extreme example here – dan anak-anak itu Cuma jadi objek foto untuk di share di instagram, dengan segala kalimat inspiratif dan hastagnya, demi menyiarkan ke dunia kalau saya orang baik.

Memangnya besok mereka akan telpon ke panti itu nanyain kabar? Atau sekedar main waktu pulang kantor? Atau memang aktif di panti di akhir pekan.

Makanya saya bilang itu semua bullshit.

Hobi orang indonesia memang, semua yang seremonial dan nggak substantif di gadang-gadang, mungkin ada hubungannya dengan kepercayaan bahwa “yang penting niatnya”.



Saya mau ngeluh soal instagram dan jejaring sosial lainnya.

Saya tahu keluhan ini petty, ga guna, ga membawa manfaat untuk umat, tapi saya tetap mau ngeluh, karena ngeluh di blog punya pengaruh langsung terhadap kesehatan mental saya. Dan mungkin mental situ-situ sekalian, ada baiknya dicoba ngeluh di internet. Lagian ngeluh memang ndak perlu membawa manfaat toh.

Saya lagi penasaran setengah mati soal faktor apa yang membuat sebuah post di social media banyak yang nge-like. Butuh dilakukan riset mendalam disini, lumayan bisa kayaknya ini tema saya ajukan buat thesis master saya di finlandia nanti kapan-kapan - One can dreams, you know.

Saya ngerasa pathetic benar ini, masalah jejaring sosial sampe bikin saya ga bisa tidur. Tapi apa kalian semua nggak penasaran? Sebenarnya yang dimau khalayak jejaring sosial itu apa sih? Kutipan inspiratif? Foto pemandangan? Foto pemandangan tapi yang punya akun harus selfie? Foto pemandangan dengan kutipan inspiratif dan yang punya akun selfie? Foto hobi? Foto bareng temen? Foto bareng pacar? Pamer barang mahal?

Kalau ditelaah case by case dari yang sebutkan diatas, mungkin memang nasib saya saja yang kebetulan ga suka hal-hal yang dilakukan orang kebanyakan.

Quotes indah? Quotes favorit itu dari Mark Twain, “But who prays for Satan? Who, in eighteen centuries, has had the common humanity to pray for the one sinner who needed it the most?” Anak  gaul mana yang ngelike quotes kayak gitu? Oke mereka ngerti bahasa Inggris, tapi mau mereka ngeresapin kutipan itu trus tiba-tiba mempertanyakan konsep setan-tuhan-doa-pendosa? Oke saya pongah, tapi akui saja lah, pernah ga situ mendalami lirik lagu Ahmad Dhani feat. Chrisye – Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada, yang sebenarnya di comot – di paraphrase? – dari puisinya Kahlil Ghibran? Pernah ga kepikiran kalau tuhan ternyata ndak ada? Atau ternyata memang ada, tapi ternyata dia Thor, atau Ra? Sudah lah, jadi ngalor ngidul ini.

Pemandangan? Udah. Iya sih, saya ngepost fotonya doang, ga ada kutipan inspiratif, tapi apa perlu? Masa iya situ mau menistakan indahnya pemandangan yang saya post? Pemandangan plus selfie? Menurut saya kamera itu ekstensi dari mata, kecuali bercermin, kita ga bisa liat muka sendiri.

Hobi? Hobi saya kacrut, koleksi action figure dan baca komik. Ga ada ceritanya hobi begitu di like khalayak ramai jejaring sosial yang suka tiba-tiba jadi ahli komik tiap musim panas dan mengeluarkan opini-opini tak berdasar seperti “christian bale itu bruce wayne yang definitif” ketika mereka Cuma tahu batman dari 2 film Tim Burton, 2 film Joel Schumacher, dan 3 film Christoper Nolan.

Foto bareng temen? Pacar? Ga suka selie, ga punya pacar. Foto barang mahal? Ga punya. Kalaupun mampu, ga ada gunanya juga punya handphone 13 juta ketika Cuma dipake jejaring sosial yang hape 4S saya masih bisa lakukan.

Intinya mah sial aja. Saya ga keikut sama yang mainstream. Tidak, saya bukan hipster. Hal tidak mainstream yang saya sukai pun tidak disukai hipster.

Pathetic bukan post ini? Mungkin post paling nyinyir, snobbish, nan nggilani yang pernah saya post di blog ini, tapi ya apa boleh bikin, saya lagi kena thipes/thypus/tipes. Ndak ada yang nanyain kabar – meskipun saya juga ndak menyiarkan berita ini sih – teman ngobrol ya ndak ada, pikiran melanglang buana, mbayangin berkeluarga, sampai skenario absurdist mulai dari tiba-tiba kenal Isyana Sarasvati via seorang teman yang ngga tau siapa – lagi ngefans banget eke – sampe mbayangin kuliah S2 di Finland sana dan ternyata roommate saya di sana adalah teman SMA Margot Robbie trus doi main ke Finland, nginep di flat saya, dan mendapati saya punya Action Figure Hot Toys doi sebagai Harley Quinn. Oh, dan ikut mejeng di foto instagram doi yang lagi pamer liburan di finland, teman-teman di rumah pun heboh.


Ya sudahlah, pusing saya, mau tidur saja.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Ode to my comfort zone

I miss the silent-ness of my room.

I miss people not giving a fuck.

Well i miss actually talking about things other than office drama.

I miss my hometown, i guess? I miss my comfort zone, browsing internet for 8 hours non-stop at comfortable speed.

I miss people actually talk in Bahasa Indonesia.

I just hate the extrovertness in this place, people give a shit about what others do, and comments about it.

I know we have opinion about things, but Jakartans seems able to keep it private, keep the echo chamber going, because honestly? Most of the things are pointless shit that people do because they like it.

I hate the fact that a simple status on your blackberry messenger could ignite some drama, you know? Like what i did in my teen year.

Less developed? Too sociable? I don't know and i don't really care, i guess i just need that little recharging sessions.

Fek i charge my "social battery" for 6 months and it depletes in 2 months, worst battery ever.

And out of loneliness in the middle of less developed region, i ask my close friend to help me find a girlfriend, 2 days after i decided to take master study in finland.

New girlfriend (hopefully) and long distance relationship does not go well together, it's 2008 all over again. 

You know, when i found a girlfriend months before she went to the ol soil of murica.

But who knows, right?

I read too much batman, i got paranoid.


Jumat, 16 Oktober 2015

Nico’s Adventure in Gowa: Journal – 16 October 2015.

The worst thing about working here, in Gowa, is shit internet. Sure they have Wi-Fi, sure most people are connected to internet, but it still miles behind compared to what I usually have and do with internet.

People here only use internet for two things, email for working, and occasional browsing, mainly facebook and news, which is what I used to do, 5 years ago.

My daily usage of internet consist of shitposting on reddit, reading – sometimes irrelevant – news on 20 tabs at the same time, while listening songs on youtube with uTorrent downloading few gigabytes of files in the background. Plus few football match streaming on the weekend.

Compared to that, using internet only for social media and news feels suffocating for me, that and i have to worry about fucking quota. Fucking quota in 2015. Unlimited internet is the future, and according to some people, the future is now. But the facts dictates that the future is still in the future in some places.

For me, internet is a symbol for borderless world. Where i could communicate with other side of the world in real time. Where people could work at company from other country while still living at home, and as long as the government, our government, thinks that internet is unnecessary, Indonesia will always playing catch up with the rest of the world.

I see people being content with the little possession they have here, at first i thought this – the feeling of contentment – is what people are missing in their life, always trying to achieve things, to have more, but then it came to my realizations that these thing that i sometimes hate – always looking up, never feel content – is the fuel to human civilizations.

People here – i guess? – feel content with their life, because they don’t know better. They don’t know that people at other countries could work with 30 paid vacation days per year, and a full year paid maternal leave. They don’t know that you could connect with the rest of the world through internet, real time, eliminating borders.

Here, i’m posting in my blog using my phone as a router, only opening one tab to save quota.
The point is, internet is fucking important.

Internet means millions of information at the tip of your finger, sure it has its weakness, lots of it are hoax and bogus. But still it helps people to be more critical, because they know better, because they are informed. But then again that’s probably the reason why our government gives little to no shit about internet, ignorant people are easier to fool and control.

Just imagine that, that much information at the tip of our fingers. Hell, one website, the holy wikipedia, probably have all the information in the world, it’s basically green lantern’s ring, or mobius’ chair. Well wikipedia doesn’t have Joker’s real name, but that’s another story.

Ps. You all – “you all” my arse, this blog only have 1 regular reader you arse – probably think i’m some kind of internet for all activist – she probably wouldn’t think of that, you pretentious bastard – i’m not, it’s just that my selfish wish coincidentally align with the greater good, which is enough for me.

Honestly, I’m not really missing my home, nor my friends, I rarely miss people, and i think that is a sign of mentally unhealthy person. 

Asking for a help is never a choice for me, i guess that have something to do with my dad’s insistence that i have to be able to do everything alone, from cleaning my own arse to applying for college. That and probably my parents trivializing my mental problem.

But despite my shit personality, friends and families stay, and I cherish them well. But then again staying away from them makes me realize how precious they really are.

That and i realized i really want that Honda CBR 250 R.


Well that and i realized Willa Holland is life.


Sabtu, 03 Oktober 2015

Devvasa

Usia sudah mau 24, tapi saya masih bingung jadi dewasa - kalo kata buku PPKn dulu, sudah jadi "orang" - itu kayak gimana.

Konsensus yang saya dapat adalah menjadi dewasa = bertanggung jawab sama keputusan sendiri, tapi saya merasa menjadi dewasa di budaya timur agak absurd. Ya saya dewasa dalam artian sudah lulus kuliah, sudah kerja, nyicil mobil sendiri, malah bisa udah punya rumah sendiri, tapi orang tua selalu ikut campur.

Saya ga bisa tiba2 pengin kawin sama wanita dari etnis yang orang tua saya ndak suka, meskipun orangnya baiknya minta ampun.


Di budaya timur, seolah-olah orang tua merasa memiliki si anak, macem barang. Di beberapa kasus, jurusan kuliah aja ditentuin orang tua, saya dulu dipaksa masuk IPA waktu SMA, dan saya menurunkan rata2 nilai Fisika saya sedikit biar ga bisa masuk IPA.

Selain intervensi orang tua, yang mbikin saya ga habis pikir soal jadi dewasa itu tuntutan sosial.

Saya dituntut untuk tampil respectable at any given time, meskipun menurut saya pake sepatu other than running shoes buat jalan lebih lama dari 2 jam - average hangout time di mall - itu absurd.

Saya dituntut mencari teman hidup, meskipun saya ngga merasa itu prioritas untuk saat ini.

Semacam ada do's and don't dalam menjadi dewasa.

Memangnya kalo saya sudah 24, dan dirumah selalu ditemani boneka angry bird raxaxa, somehow negating my 24 years worth of experience? 

Jumat, 18 September 2015

Salah

Ngobrol sama temen SMA itu cuma bikin galau.

Bukan, bukan karena kita pernah saling naksir, tapi karena tiba2 di tengah obrolan panjang lebar via pesan instan, kita sadar, kita sudah 24.

Kita hidup ya tinggal hidup. Bangun, sarapan, kerja, makan, beol, tidur. Gitu aja terus, rutin, tiap hari, tiba2 udah 24 tahun.

Tiba2 masalah yg kayaknya dulu masih jauh di depan sana, sekarang udah disini, di depan muka.

Tiba2 kita sadar kalau yang lain sudah settle satu2. Meskipun banyak juga yang belum settle, tapi gatau kenapa kok rasanya ketinggalan aja gitu, seolah-olah idup itu balapan. Padahal mah bukan.

Balapan itu start dan finishnya sama, hidup mah mau digimanain bukan balapan.

Startnya beda2, mulai dari yg jelas kayak tanggal lahir, sampe yang abstrak macem garis keturunan. Anak seorang konglomerat tentu lebih bisa mengambil resiko, karena safety netnya lebih kuat. Yang lain mah boro2, kerjaan yg di depan mata aja dulu, ada kredit rumah yang musti dibayar soalnya.

Finishnya apalagi.

Ada yang ga sempet balapan udah finish, ada yang udah ga jelas dan pengen cepet finish aja taoi ga finish2.

Tapi ya gimana, perasaan stuck itu emang ada.

Waktu temen2 lain bahagia dengan hidupnya, saya masih misuh2, sambil dengerin IU, di tengah hutan, buat modal nikah.

Ya bingung juga mau nulis apa, semuanya seliweran di kepala, bingung mau yang mana yang ditulis.


Kamis, 17 September 2015

Pulang

You know those people who always says "relationship means you're stuck in one place"? That's me.

Ga bisa seenaknya situ cabut kerja di pedalaman hutan kalau punya pacar, pasti kangen mulu.

Tainya, masalah ini ga terbatas sama pacar doang, karena saya ndak punya pacar, tp saya kangen guguk saya 


Karena sejak lulus sampe dapet kerja spet nganggur 6 bulan, jadi tiap hari di rumah mulu berdua.

Jam 8 pagi pasti dibangunin, jam 9 kite mamam, kalo mbak lagi di rumah, jalan keliling komplek, abis itu leyeh2 di halaman belakang bedua.

Trus dapet kerja yg harus di tempatin di makassar minimal 2 minggu, bisa lebih, baru hari ke tiga udah kangen si guguk.

Saya mah bisa survive tidur di lantai, cuma pake tiker, ga pake AC.

Tahan saya mah ga buka reddit sebulan, meskipun berasa banget terisolasi.

Tapi rindu euy sama asu kesayangan, padahal mah suka kesel kalo lagi kurang tidur dibangunin jam 8 pagi, tai lah

Minggu, 06 September 2015

Tenonet

i'm a lucky bastard.

hal paling susah ketika seseorang mau mulai berdiri sendiri adalah langkah pertama, kesempatan hampir nihil.

memang banyak lowongan di situs lowongan kerja, tapi itupun mereka selektif.

ratusan ribu orang wisuda S1 tiap tahunnya, mereka masih harus bersaing dengan orang-orang yang wisuda taun lalu, belum lagi mereka yang cukup beruntung bisa kuliah S2. kompetisinya tidak masuk akal.

then here i am.

i didn't came from rich ass family, i came from a well connected family, then out of fucking nowhere i got this short term job, with paycheck i couldn't even dream of.

Work situation sucks, i have to leave home and stay in the middle of fucking nowhere. Work's menial, but the money's good.

Can't remember since when i've changed into this pragmatic bastard.

Job ends in the end of November, then graduation, by then i should have enough money to stry some small business, so there's  that.

Being mainly isolated from metropolitan life have its perks, the best: you don't feel that hectic rush-hour-ish atmosphere

But then you really do feel isolated.

Minggu, 23 Agustus 2015

walk hard

for every once in a while you found a movie that betrays your expectation in a good way. you expect it to be another shitty comedy, but it turns out to be one of the funniest comedy i've ever see. 

i'm talking about dewey cox, played by John C. Reily.



Just like life. you'll meet people that betrays your expectations in a good way.

the point is, life will surprised you. 

the last day of college was 6 months ago. i got 6 months of breaks. staying at home, sleeping like crazy. now before you judge me for being lazy, let me give you this: i - well, all of us - go to school for 12 years, since i was 6, non-stop. from monday to saturday, monday to friday at high school. then after about a year breaks, i went to college for 5 years. non stop, monday to friday, sometimes without sleeps. so don't you dare accusing me of being lazy. it's you who chose to conform to society's standard.

you know what happened if you take 6 months to do practically nothing? you get mental health gets better. have you ever think how fast paced our life is? monday to friday, commuting for hours, works 9-5, then on the weekend, you go the mall. have you ever imagine how fucked up that is? that the fact overworking - instead of efficient working - is lauded in our society? that people brags about lack of sleep? 

anyhoo

if you look at my post, it gradually changes from being angry and bitter to still bitter, but not as angry.

seriously. 

i got 6 months reflect about things, which i believe is a privilege that not everybody could afford.

imagine it like this, you've been walking for 16-17 years to reach your target, or for some, just walking aimlessly, following the flow. after 17 years of walking, i stop, i took my time to enjoy it. sometimes i look back, and thankful for how far I've come, and looking forward to new things. 

that new things? it's on the horizon. i got a job. and i'm very excited about this. it's corporate, but i go to work with sneakers and t-shirt, and most of time will be spend outdoor, well, outisde jakarta. it's a nice change of pace of those highly disciplined to the point it's ridiculous karawaci.

so yeah. cheers to the new chapter of my life.

Selasa, 11 Agustus 2015

this is character development for you.

when you read new52 after beating arkham knight, you'll realize how much the status quo have changed.

first, arkham asylum/blackgate is actually functioning as prison/correction facility, you know, that nobody can't just escape at will. this means batman needs new villain, and other than joker and riddler (riddler stuffs happened in the past tho), all batman villain are new.

and this time around, characters do get development. they're not in endless circles unlike the 90s and the 00s, which made comics popularity went down.

spoiler alert.

two-face origins altered a bit, and it turns out he knows who batman is all the time. fucking hell it shocked me. it makes the interaction between two-face and batman deeper and more intriguing.


joker finally feels that this cat and mouse game is boring, and going full attack on batman, the results? two great joker arc in 3 years.

harley finally realized that joker is sick bastard, moves on, and actually doing good, albeit still morally ambiguous. hell, she and ivy watched movie together in civilian clothing.

two highly educated psycho villain watching movie together used to be unheard of.

i love the fact that as long as plant is not involved, ivy is a good guy. even when plant is involved, she won't just flat out murdering people. and harley now goes on robin hood-esque adventure. and i'm shipping these bruce-harley relationship.

harley actually - thanks to batman erasing her prior criminal history - got a job as a therapist, and i love her new origin story. she grew up in abusive environment, and actually earning her Ph.D by herself.

harley teaming up with ivy to save bruce? 

and the fact that joker is so bad, batman's rogues gallery actually agree to team up and help him save the city, is pretty badass. 



some fans are angry for the change. but i guess that's the different between manga and comics. manga's status quoe changes all the time. sasuke goes from good to bad to kinda good to bad to good. so does vegeta. 

and the fact that status quos are changing, it means the stories are progressing. and it's good.

all in all, i love new52. i love the fact that DC is letting the writer to write the story to develop DCs characters.

Minggu, 09 Agustus 2015

Masa Orientasi Semu

Masa orientasi siswa itu indonesia banget: ga substansial dan ceremonial.

Alasan orientasi siswa adalah agar siswa akrab dengan budaya institusi sekolah/universitas dan tentunya mengakrabkan angkatan.

I call bullshit on that.

Fucking collectivism comes to mind.

Indonesia ini negara kolektivis, semua apa kata orang, nanti orang mikir gimana. Individualisme itu hina.

I call bullshit again.

Sebenernya, deket sama senior juga ga ada guna nya.

Masalah perkuliahan/sekolah? Ada pembimbing akademis/wali murid. Masa soal "jangan ngelawan guru" harus diingetin senior, itu akal sehat aja.

Mengakrabkan dengan sistem sekolah? Ada guru, ada buku panduan, ada website. Masa kamu sebodoh itu gatau cara daftar ekstra kulikuler.

Mengakrabkan dengan teman? Teman ospek SMA saya cuma satu ygsampe skrg masih deket, itu juga bukan krn ospek, emang cuma karena punya kutual interest, deketnya pun setelah lulus SMA.

Biar kenal guru/dosen? Kamu ga bakal dimarahin juga klo masih baru dan nanya "pak A itu yg mana"

Agar tidak kurang ajar dengan senior? It's fucking common sense. Senior juga ga minta disembah sujud kalo ketemu harus nyapa "ka/mba/mas/bang," asal ga petantang petenteng aja. Ah sbenernya petantang petenteng senior yg waras juga ga peduli, banyak hal yg lebih penting dibanding recokin junior.

Koneksi alumni? Berapa banyak sih yg kebantu direct krn alumni? Klo almamater banyak, ga usah kenal itu. Emangnya mentang2 sandiaga uno alumni PL, trs anak PL bs sekonyong2 masuk? Ga juga kan. Tetep anak itu harus memenuhi syarat, faktor koneksi ga lebih dari 5%. No, 1%.

Segala pesantren kilat, latihan kepemimpinan, bullshit semua.

Anak2 yg ikut pesantren kilat tiap mau puasa, ga bakal tiba2 hafal quran, ato jadi lebih baik. Leadership2 juga gt. Memangnya paolo maldini ikut begituan? Orang2 yg dipilih jd leader karena emang punya x factor yg dibutuhin seorang leader, bukan training ecek2 pake motivator ato baca buku self help.

Semuanya alasan buat yg lebih duluan masuk sekolah ngerjain yg belakangan. Coba cari mahasiswa gap year, jadi pas masuk seumuran seniornya, itu senior juga ga berani ngapa2in.

Gw kuliah ga ikut ospek, i turn out fine.

Masalah jadwal kuliah? Tanya tata usaha. Daftar UKM? Tanya tata usaha. Bayar kuliah? Keuangan. Nilai? Akademis.

Iya seminggu pertama pasti awkward, tapi ya normal lah awkward, orang baru kenal, awkward di hari pertama sekolah/kuliah ga bikin mati, toh biasanya dosen/guru nyuruh bikin tugas kelompok dan kemudian akrab sendiri.

Because honestly, i hate people told me to do shits.

This is what normal people do right? No. Having common sense is special now.

saya kadang selalu mikir, "ayo lah, masa sekedar cari tau cara bayar kuliah aja harus di empanin, dan kita bayar dengan mau disuruh2 bikin yel gapenting yang taun depan udah lupa" gw punya ekspektasi tinggi sama manusia manusia ini, masa iya, gitu aja musti di empanin.

ternyata, memang ada khalayak emang perlu di empanin hal sesederhana kalo parkir pararel jangan rem tangan.

terlalu menggebu ingin terlihat kompak, jadi malah kompak semu.

kekompakan ga bisa dibentuk dengan cara dimasukin ke kelompok random, dan dipaksa untuk jejogetan. mungkin awalnya bisa tidak awkward, toh tapi akhirnya banyak faktor yang bermain soal kekompakan apa nggak.

mirip teknik pdkt lah. ada teknik-teknik yang terbukti kalau dipakai bisa membuat kamu mendapatkan si dia, tapi toh akhirnya bagian mempertahankan ini yang susah.






Kamis, 06 Agustus 2015

Tenonet

saya selalu percaya kalau tidak semua orang punya wajah oke - in widely accepted standard, symmetrical face is beautiful, so there's that - tapi wajah oke bisa ditemukan dimana saja. termasuk gerai Londre depan rumah.

"YANG BONENG BRAY"

boneng cuy

mbak-mbak Londre depan rumah eke bentukannya mirip Yoon So-Hee.

kayak begini, cuma tambah jilbab sama logat daerah aja.

oh dan mbak-mbak indomaret yang mirip daanish, model di video klipnya tulus yang sewindu.
kita sibuk bicara rasisme padahal masalah yang lebih darurat itu diskriminasi kelas.

tentu saja orang-orang yang situ liat di pacific place, no matter how bad their bone structures are - which i consider as the true selves, because come on, it's who you are physically - because they could cover it in millions rupiah worth of make up and maintenance. 

there are women who never wash their own hair, selalu di salon.

ada teman saya yang cuci mukanya 11 tahap.



Minggu, 26 Juli 2015

fucking instagram.

i have no problem with sharing, i'm not some le wrong generation, anti-sharing shit. i have problem with the fact that photograph, especially family photograph, are not as special as it used to be. 

in the past, family albums are for family, private consumption. for outsiders to see it, that outsiders have to be considered special, close friends, family, significant other. it used to be special.

and it used to be bad photos artistically speaking, but it was honest.

it did not go through filters, when you took that pictures, the only thing in your mind was that you want to immortalize this beautiful moment with your loved ones. no fake internet points.

now people will go through a lot of effort to engineer a moment, for a fake internet points. some even hired photographer for their instagram account ffs. that suddenly it is important to share to the whole world that you love your family. you're supposed to love your family, you're not special or better than others for loving your dad.

suddenly saying happy birthday to your family in private alone is not enough, suddenly you have to say it with a picture in social media. when in fact your family doesn't have social media account.

i love my father, but people wont see me sharing my dad's picture. when my mother is having a birthday, i told her in person.

suddenly not sharing photograph in consistent basis deemed uncool.

Sabtu, 25 Juli 2015

Be The Fucking Batman

there's only few of my friends and family who found out that i'm a cynical bastard. even i hate this trait of mine.

i don't want to be a cynics. i want to be the ultimate optimist, the one that people will turn into when they face problems, and ask for encouraging words to help them go through that shit.

i want be a person who sees good in people through their bad.

i want to be a fucking superman.

this is the definitive superman, right here.

i want to believe when given the opportunity, people will the do good things, the right things.

i tried to believe when given the opportunity, people will the do good things, the right things.

i've been in positive vibe in the last few days

but then reality just smacks you in the fucking face.

people just fucking sin differently.

for the record, i don't have problem with other people's sin, it's their problem with their own god. or if you don't believe in one, with their own sense of morality.

i have problem with people judging other people who sins differently.

like giving advice to eat healthy while smoking. or telling gay people to die - as if being gay make them evil people - while having an affair here and there, the sanctity of marriage my ass.

you what's funny? it's when the very one that you thought the worst sinner, turns out to be the best of us all.

i want to be superman, but it turns out i'm a godamn batman.

Be The Batman, says rocksteady.

ps: wanna know why i've been in a good vibe? because after strings of luck, i can finally afford a PS4 and a copy of Batman Arkham Knight

Rabu, 22 Juli 2015

L.O.V.E

if somebody told you that they have this good investment program.

you have to spend time, money, and emotion to this program, but the success probability is only 50%, if you are male you're probably still have to pay even after you terminate this contract, would you do it? can you guess what this investment program is?

it's freaking marriage.

Jumat, 10 Juli 2015

snobbish sekaligus berusaha menghibur diri.

this post will sounds very snobbish, because that is what i intended to do.

i'm the epitome of jack of all trade. 

i know few things about a lot of things. you can talk to me about economy, politics, recent issue, gossip, cars, football, movies, games, basically minimal knowledge to actually survives in modern world, but i don't have one exact field that i'm specialized at.

if i'm having a job interview, and the interviewer asks about my strongest point, this will be my question: i know/can do a few things in a lot of field. i'm the product of Indonesian education, at least what it intended to do; to create a workforce who can do a lot of things. but unfortunately, a lot of people couldn't exactly do that, so they will probably chose 2-3 things to do. i don't know if this is a curse or a sign of highly evolved intelligence, but i could learn a lot of things, but never deeply. because honestly, learning something too deep won't give me any benefit if i'm not going to be a professor.

the best analogy is probably; if you want detailed answer about economy, you could ask my economy graduate friends. if you want to ask about law, ask my lawyer friends. want to know about politics? ask my polsci friends. but if you want to know the relation between why politics could create some law that would affect economy, i'm that guy.

saya curhat sama teman saya beberapa bulan yang lalu soal jurusan saya. lulus setelah 5 tahun ngga punya fokus yg jelas. saya belajar ekonomi, politik, HI, matematika, sama filsafat. tapi kemarin saya baca artikel kalau orang yang cuma punya satu fokus, karirnya mentok di bidang itu.

mau tau orang-orang yang punya approximate knowledge about a lo of things itu jadi apa? a CEO.

yasudah, mau balik nonton korea

Sabtu, 04 Juli 2015

misuh misuh siang hari

paradox makin selarasnya musik-musik yang disetel di radio ini mbingungin. apakah musik makin selaras karena pendengar sukanya yang begitu, apa selera pendengar jadi begini karena musik yang dikasih gitu-gitu aja.

saya tahu akan selalu ada musisi yang menghasilkan lagu-lagu yang niat bikin, as in bikinnya beneran pake alat musik, bukan sampling atau 75% lagunya bass doang. more treble pokoknya.

menurut saya alasan terbesar K-Pop dan J-Pop setenar ini, meskipun tidak punya networking sekuat label-label US, karena mainstream scene nya tetep beda-beda. kalau di US mau masuk top40, minimal ada sesi rapnya, atau edm, atau lagu kelewat mendayu yang selama 3 menit konsisten mendayu terus. sedangkan di K-Pop atau J-Pop, situ bisa bikin lagu rock atau bahkan trot - trot itu dangdutnya korea - dan akan tetap masuk top 40.


sebenarnya saya bosan saja. effort yang dibutuhkan buat nemu lagu berbahasa inggris yang ga mendayu/ngebeat/ngerap/edm itu susah sekali. 

yang saya kritik bukan musisinya, murni produser-produser itu yang makin kesini makin risk averse, dan ini kejadian juga di industri hiburan lain di US sana. buku penuh dengan novel tentang masa depan penuh distopia yang tokoh utamanya remaja, film penuh remake dan reboot - won't say no to batman v superman tho.

Sabtu, 20 Juni 2015

My Sassy Girl

2011 kemarin saya lagi nganggur karena lupa bayar semester pendek, dan akhirnya liburan 3 bulan.

kalau saya waktu itu bayar semester pendek, mungkin saya bisa lebih dekat dengan teman angkatan saya, mungkin saya akan lulus 4 tahun, dan mungkin-mungkin lainnya.

tapi toh akhirnya saya ndak ambil itu semester pendek, tapi saya ndak menyesal sama sekali, karena ditengah liburan itu, saya menemukan ultimate romcom, romcom terbaik dalam sejarah kemanusiaan, romcom yang saya telat nonton 10 tahun.

judulnya My Sassy Girl, saya nonton di youtube, dan kalau situ belum nonton juga bisa nonton di youtube.

inti dari post ini adalah

FUCK OTHER ROM COM, MY SASSY GIRL IS LOVE, MY SASSY GIRL IS LIFE!

you think the US version is cute? the US version means jackshit compared to the real one.

the real one will make you laugh, make you feels those butterfly in your stomach,  THEN RIP YOU FUCKING HEART AND EMPTY YOU TEARDUCT, and finally make you yearn for genuine connection with people, and maybe make you believe in love again.


Selasa, 16 Juni 2015

pagi

waktu kita kecil dulu, ngeliat anak SMP tuh kesannya dewasa banget. begitu SMP, liat anak kuliah kesannya asik banget sekolah pake baju bebas. pas kuliah iri liat yang udah kerja. pas kerja kangen kuliah. 

saya sedikit tradisionalis disini. menurut saya sistem pemaketan sks mata kuliah - jadi seperti anak SMA -menghilangkan esensi kuliah itu sendiri. universitas bukan lembaga pendidikan dalam sudut pandang pembentukan ahlak dan etika, itu masalah SD sampai SMA. universitas adalah lembaga pendidikan tinggi, dimana siswanya disebut mahasiswa, dan tujuannya adalah mengejar pengetahuan yang tentunya lebih dalam dari sekedar pelajaran SMA.

universitas harusnya penuh dengan pencarian jati diri, dan pencarian jati diri ga bakal kesampaian kalau jadwal kuliahnya senen-jumat, pagi sampai sore, satu semester 24 sks. iya kamu lulus 3,5 tahun, tapi sesi pencarian jati dirinya mundur, kamu mencari jati diri ketika kamu sudah jadi angkatan kerja yang mbayar pajak.

saya selalu melihat ada dua tipe orang yang lulus kuliah, pertama yang lulus cepet, biasanya lulusnya dengan muka gembira karena selama kuliah cuma kuliah disambi magang sekali dua kali plus sedikit kegiatan jurusan. kemudian ada yang lulus dengan muka yang lelah, biasanya karena berkutat dengan konsekuensi kemalasan di awal kuliah, dan akhirnya harus menanggung akibatnya, dengan cara lulus lama.

yang pertama tentu secara sekilas lebih bagus; konsisten, rajin, dan bertanggung jawab. tapi masalah asam mecin, yang kedua lebih ntap; dia sudah pernah gagal, instead of giving up, they grind it to the end. semakin cepat kamu merasakan kegagalan, semakin enak kedepannya.

di kampus saya ada program lulus 3 tahun, berarti kalo lancar lulusnya umur 21, kebayang ga sih kerja umur 21? di bentak orang umur 10-20 tahun lebih tua apa ga kicep? setidaknya kalo kamu lulus di usia 23-24, angka usia kamu lebih respectable, 1/4 abad, orang juga ga sembarangan marah-marahin kamu. kalaupun dimarahin sih, kamu udah sering dimarahin dosen.

ini masalah book smart lawan street smart, saya bisa baca 1000 tips soal sikap positif di lingkungan kerja, tapi pada akhirnya pengalaman kamu dalam berhadapan dengan taiknya dunia lebih berperan daripada nilai UAS kamu yang straight As.

kuliah 4-5 tahun itu udah paling benar. 1 semester 18-20 sks, cukup padat tapi ga segila 23-24 sks. kalau di ganjil dan genap lancar, mei-agustus liburan. libur ini bisa di isi kerja ato sekedar mendalami hobi kamu yang terlupakan selama kuliah.

universitas harusnya tempat diskusi, saling adu ide, bukannya malah implementasi ideologi agama kedalam ilmu pengetahuan yang jelas-jelas sifatnya sekuler.

Kamis, 11 Juni 2015

Curious case of pencitraan artis korea

Ps: Daripada dibilang pencitraan, mungkin lebih baik disebut industrialisasi citra, karena memang perencanaan yang disiapkan oleh bagian PR si artis memang masif.

Pertama dibedakan dulu antara artis, selebritis, dan idol. Artis adalah mereka yang hampir tidak peduli sama citra mereka, kalaupun ada seorang artis yang identik dengan sebuah citra, itu hasil yang natural. Selebriti adalah mereka yang sebenarnya punya dasar seni yang cukup kuat, tapi tetap butuh rekayasa citra demi mencapai level selanjutnya. Idola adalah hasil industri manufaktur selebriti, contohnya ya JKT48 dan Idol Korea Selatan kebanyakan.

Industri Selebriti Korea

Fenomena ini jujur hanya terjadi di asia timur, tepatnya di dua tuan rumah Piala Dunia 2002; Jepang dan Korea Selatan. Hasil industri “artis” korea selatan disebut idol. Kenapa idol? Nanti juga ketauan.
Seperti namanya, talenta diproduksi dalam jumlah masif. Yang berhasil banyak, dan yang berhasil biasanya jadi besar (sekali), tapi yang gagal jauh lebih banyak. Menurut wikipedia, tahun 2015 ada 44 grup yang debut, dan hanya 6 dari 44 grup itu yang punya page wikipedia sendiri, mengimplikasikan kalau mereka punya fanbase yang lumayan peduli buat update wikipedia mereka.

Dalam hidup idola korea, hampir semua aspek hidup diatus agensi. Mulai dari debut sama siapa – iya, mereka gatau akan bikin grup sama siapa sampai 1 tahun sebelum debut, bahkan ada transfer, jadi latihannya dimana, trus di”beli” sama agensi lain – makannya apa, imagenya gimana, dan boleh pacaran apa tidak. Beberapa agensi melarang kepemilikan handphone. Sedangkan pemain bola di eropa sana, begitu punya kontrak 1000 euro seminggu, langsung bisa kredit mobil dan sewa apartment.

Dari semua aspek hidup yang diatur oleh agensi, yang paling brengsek adalah manufaktur image si artis itu. Ga ada yang tahu di dunia ini gimana kepribadian artis itu sebenarnya, kecuali kenal personally. Itupun masih bisa ditutupi oleh budaya basa basi asia timur.
milih foto ini biar bisa bilang "devilishly cute"
Take this devilishly cute IU for example. Dia dicitrakan oleh agensinya sebagai “nation’s little sister”, jadi pembawaan dia harus imut, rendah hati, dan murah senyum. Yang tadi itu image dia di interview, image per-album lain lagi. 

ini promo album apa gitu saya lupa.
Ga ada yang tahu dia aslinya gimana, dikepala saya ya dia ini orangnya cute, enak diajak ngobrol, dan minta diajak nikah. Padahal bisa saja aslinya dia shallow obnoxious bitch yang merasa umat manusia harus berterima kasih atas kehadiran dia. Tapi lagi-lagi karena kehidupan idol yang terisolasi, hampir mustahil ada cerita dari teman masa kecil atau tetangga, karena mereka ga punya teman masa kecil, dan hampir tiap hari diluar rumah, meskipun saya berharap dia punya sense of justice yang kuat.
kalimat terakhir sengaja saya tulis biar ada alasan ngepost foto ini.

Untungnya mereka ga pernah menyebut diri mereka sendiri sebagai seorang artis, mereka self-claim themselves as an idol. Karena mereka memang bukan artis – tapi IU pengecualian sih, doi bikin lagu sendokir, makanya gw sayang* - mereka idol. Komposisi grup mereka diatur, dance mereka diatur, konsep video klip mereka diatur, image mereka diatur, saking diaturnya, banyak idol yang sebenarnya punya bakat yang hebat tapi harus rela mengalah demi popularitas dan stabilitas finansial. Tapi tentu saja mayoritas dari mereka senang-senang saja di-idolai remaja seantero asia dengan bakat yang pas-pasan.

paradox dari kultur ini adalah sosial media mereka sangat-sangat personal, saking personalnya, saya yang sinis ini curiga kalau agensinya juga bikin guidance tentang apa aja yang boleh dan ga boleh dipost di jejaring sosial.

OKE SEBENERNYA POST INI TUH LAGI-LAGI ALASAN AJA BUAT NGEPOST POTO IDOL FAVORIT, KALI INI SI IU.


auranya aura teman sekelompok yang manis tapi ga cantik bitchy
*sayang, menurut saya, adalah tahap 3 dari fanboy/girling seorang public figure. tahap satu itu sadar, kedua penasaran, ketiga sayang. dan karena citra si artis ini biasanya konsisten, kecuali ada skandal yang bikin ilfil, fanboy/girl ini akan tetap sayang sampai mati

Ps; saya punya kecendrungan aneh, 3 paragraf pertama ditulis di microsoft word, dan kata-kata yang saya pilih, secara tidak sadar adalah kata-kata yang baku, kalimatnya pun punya syntax dan grammar yang baik dan benar. 2 paragraf terakhir ditulis di blogger, tiba-tiba saya kayak ngobrol sama diri sendiri.


Minggu, 07 Juni 2015

about procreation

No matter how strong my stance against (mindless) marriage is, marriage indeed feels like a rite of passage, some sort of leveling up in life. There are a lot of rite of passage, from your first day of school, first day of college, college graduation, or first day at your first job, but marriage feels like a whole new level of leveling up.

Maybe it’s about the commitment, maybe it’s about the risk, or maybe because society planted this idea of ideal life of classic nuclear family. We all know about this, about the commitment and the risks of marriage, but most of us never think about it, we take it for granted.

For the record, i’m still against early marriage. I believe we as a human, thanks to thousands of years of evolution, have developed these great potential to achieve great things, and we should explore those potential, we could send a robot to mars godamnit people. It is a crime against humanity to take these potential for granted, and choose to settle at their peak years.

Being a parent is hard, being a great parent is an achievement, but having kid is not some milestone that worth a celebrations. Well a lot of things aren’t worth celebrating.

I know people want to have kid(s), but please don’t do it because you want to have a kid to play with, or you want to be a hot mom, with hot teenage daughter, like those cream advertising. Your job as a parent is to prepare them for their life without you, because world is a cruel, often unforgiving place.
Having a kid is a lifetime commitment. You hate you significant other? You could get a divorce. We have ex-husband/wife, but we don’t have ex-son/daughter. If you think you are not ready to spend most of your time and energy to educate your child(ren), please don’t.

We often thinks about leaving a good earth to our child, but honestly we should start thinking about leaving a good child for this earth.


Well, tigra explains it better.